Ketika Seina membuka pintu apartemen, tubuhnya langsung di tubruk oleh badan besar Langit. Suaminya itu memeluknya dengan erat.

“Sayang, maafin Mas,” Seina hanya diam tanpa ada tanda tanda membalas pelukan Langit. Matanya berkaca-kaca, menahan sesak yang datang tanpa permisi. “Sayang? Tolong di jawab, mas minta maaf ya?” Langit mundur sedikit, menatap wajah cantik Seina dari jarak yang sangat dekat.

“Aku loh gapapa, Mas Langit pasti capek. Ayo makan dulu, aku masak nasi goreng kesukaan Mas,” Seina tidak mau bertatapan lama dengan Langit. Berusaha mencari alasan.

“Iya cah ayu, habis makan kita ngobrol ya?”

Tubuh kecil itu segera pergi meninggalkan suaminya menuju dapur sedetik setelah mengangguk setuju. Membiarkan Langit menatapnya dari belakang. Satu hal yang Langit tahu, dia merindukan Cah Ayu nya, Seina nya.

“Jadi mau ngomongin soal apa, Mas?” Seina memulai obrolan terlebih dahulu, tangannya sibuk mengelus rambut Langit yang kini kepalanya ada di pangkuan Seina.

“Menurut Cah Ayu, 9 bulan itu lama tidak?”

“Lama kalau ini soal berbagi Mas Laut ke Arula,”

Langit tiba-tiba duduk. Merasa obrolan ini akan serius. “Mas minta kamu sabar ya? Sesuai perjanjian di awal, setelah bayi nya lahir, Arula bakal pindah ke luar negeri buat melanjutkan S2. Mas sama dia bakal cerai. Sekarang, mas minta tolong pengertian kamu Cah ayu. Mas harus tanggung jawab—